Halaman

Sabtu, 07 Mei 2016

Prabowo dan Misi ke Puncak Everest

Menyaksikan film Everest beberapa waktu lalu mengingatkan saya tentang betapa ambisiusnya Prabowo Subianto saat mengirim tim Kopassus untuk mencapai puncak Everest pada 1997, atau setahun setelah tragedi pendakian Everest yang menimpa Rob Hall dan timnya, seperti yang diceritakan dalam film tersebut.

Prabowo, yang ketika itu menjabat sebagai Danjen Kopassus, gemas ketika mendengar tim Malaysia sudah berada di Nepal untuk persiapan pendakian Everest. Dia berambisi, jangan sampai tim Indonesia keduluan Malaysia. “Waktu itu kita mendengar kabar bahwa Malaysia mencanangkan akan mengibarkan bendera kebangsaan mereka pada 10 Mei 1997. Saya tidak rela Indonesia, sebagai bangsa dengan 200 juta jiwa, harus kalah dengan bangsa lain di kawasan kita. Sebab mencapai puncak tertinggi di dunia sudah menjadi salah satu tonggak ukuran prestasi suatu bangsa,” begitu kata Prabowo sebagaimana tertuang dalam bukunya, Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan.

Ia lantas memerintahkan bawahannya mencari para pendaki gunung. Mereka diseleksi. Ketika itu, ada sekitar 40 orang yang dipanggil untuk mengikuti seleksi. Mereka terdiri dari masyarakat sipil dan anggota Kopassus.

Pada seleksi pertama, 30 orang lolos. Prabowo lalu menunjuk Letnan Kolonel Pramono Edhie Wibowo sebagai pimpinan tim pendakian. Jadwal latihan dibuat dengan amat ketat, selain di markas Kopassus, Gunung Gede dan Pangrango menjadi sentra latihan. Untuk mengejar waktu, pada Desember 1996, Prabowo mengambil keputusan untuk memindahkan lokasi latihan. Para pendaki itu langsung berlatih di dekat lokasi tujuan, yakni di Nepal.

Sadar minim pengalaman, Prabowo dan tim Indonesia meminta Anatoli Boukreev, pendaki profesional asal Rusia untuk melatih sekaligus memimpin tim sampai Puncak Everest. Anatoli sendiri sudah menjejakkan kaki di 7 dari 14 puncak gunung berketinggian sekitar 8.000 meter dari permukaan laut dengan tanpa bantuan tabung oksigen. Ia merupakan pendaki elite profesional yang mendapatkan julukan Ghost of Everest.

Waktu menerima tawaran untuk memimpin tim Indonesia, Boukreev sebenarnya pesimis. Katanya, “Bagaimana mungkin orang-orang yang terbiasa hidup di iklim tropis bisa tahan berada di suhu dingin paling ekstrim.”

Bahkan ketika bertemu Prabowo di Jakarta, Boukreev mengatakan bahwa peluang tim Indonesia untuk bisa mencapai puncak Everest sangat kecil, hanya 30 persen. Ia mengusulkan agar tim Indonesia berlatih terlebih dahulu selama setahun penuh dan mendaki gunung-gunung tinggi yang lain sebagai aklimatisasi. Menurut Boukreev, orang-orang dengan stamina paling hebat sekalipun, tapi tanpa pengalaman mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia, tidak ada artinya.

Prabowo menolak usulan Boukreev. Ia menegaskan kalau tim Indonesia punya motivasi besar dan sanggup mendaki Gunung Everest. “Mereka bahkan rela mempertaruhkan jiwa dan raga untuk mencapai tujuan utama, Puncak Everest,” sergah Prabowo. Jawaban yang tegas tersebut memukul sekaligus meluluhkan hati Boukreev. Boukreev kemudian meminta dua rekannya yang juga pendaki profesional asal Rusia, yakni Vladimir Bashkirov dan Evgenie Vinodgradsky, serta pelatih asal Polandia Richard Pawlosky, untuk membantunya mempersiapkan tim Indonesia mencapai Puncak Everest.

Setelah serangkaian latihan dan persiapan, 16 orang pun siap menuju Puncak Everest. Tim dibagi dua, yakni Tim Utara yang mendaki melalui Tibet, dan Tim Selatan di Nepal. Rabu, 12 Maret 1997, pendakian pun dimulai. Prabowo menyempatkan diri datang untuk melepas anak buahnya.

Saat pendakian, badai menyerang Tim Utara, memaksa mereka turun gunung dan menyerah. Sementara, Tim Selatan kerap kali terserang penyakit gunung. Malam hari, saat beristirahat di tengah pegunungan yang bersalju dan bersuhu ekstrim, mereka terkena sakit kepala hebat sampai berteriak-teriak histeris. Akhirnya, pada ketinggian 5.300 meter dari permukaan laut, pelatih hanya memilih tiga orang untuk menuntaskan misi mencapai Puncak Everest. Mereka adalah Asmujiono, Misirin, dan Iwan Setiawan.

Dalam pendakian selanjutnya, hanya Asmujiono yang akhirnya berhasil mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi dunia pada Sabtu, 26 April 1997. Ia sekaligus menjadi orang Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Puncak Everest.

Begitu sampai puncak, Asmujiono menyingkirkan semua atribut yang ada di kepalanya. Ia kemudian memasang topi baret merah kebanggaan Kopassus, mengibarkan Sang Merah Putih, da menyanyikan Padamu Negeri.

Betapa ambisi, visi, dan mimpi besar bisa memacu kita untuk merealisasikan hal yang hampir mustahil menjadi mungkin. Maka, penting bagi pemimpin untuk menggulirkan gairah dan semangat kepada anak buah.
Asmujiono saat memakai baret Kopassus dan memegang bendera Merah Putih di Puncak Everest

Prabowo Subianto saat meninjau latihan di kamp latihan pendakian Puncak Everest


Kasali, Rhenald. Februari 2016. Reinventing. Hal.173-176

Tidak ada komentar:

Posting Komentar